satu satu
oleh iwan fals
Satu satu daun berguguran
Jatuh ke bumi dimakan usia
Tak terdengar tangis tak terdengar tawa
Redalah reda
Satu satu tunas muda bersemi
Mengisi hidup gantikan yang tua
Tak terdengar tangis tak terdengar tawa
Redalah reda
Waktu terus bergulir
Semuanya mesti terjadi
Daun daun berguguran
Tunas tunas muda bersemi
Satu satu daun jatuh kebumi
Satu satu tunas muda bersemi
Tak guna menangis tak guna tertawa
Redalah reda
Waktu terus bergulir
Kita akan pergi dan ditinggal pergi
Redalah tangis redalah tawa
Tunas tunas muda bersemi
Waktu terus bergulir
Semuanya mesti terjadi
Daun daun berguguran
Tunas tunas muda bersemi
testimoni seorang ugi: 21/1/2009
Satu Lagi yang Harus Mengalah Pada Sistem
Siang tadi saya kaget bukan main, tiba-tiba saja ada sms masuk dari nomor gsm yang belum sempat saya save. Sms tersebut berbunyi : Teman, sya mhn maaf klo slma tgs d bndg pny kesalahan. Mulai hari ini sya undur diri dr Sindo sekaligus pamitan krn hr ini jg sya plng k bali. Marilah gapai sukses dr tmpt yg berbeda. Trims teman. Usai membaca sms itu, saya jujur langsung terdiam dan berpikir-pikir siapa gerangan yang keluar dari Sindo menyusul Ulum yang memang sudah tidak “diinginkan” lagi di Sindo.
Kebetulan di Bandung hanya tingga duo Bali yaitu Mas Rohmat dan Putu. Setelah berpikir tentang siapa yang keluar. Saya pun putuskan untuk menghubungi salahsatu teman dan menanyakan kebeneran sms tersebut. Dia membenarkan dan memberitahu bahwa teman kita, Putu memilih keluar.
Sebelum sms yang tadi siang saya terima. Tanda-tanda ada yang hendak mengundurkan diri dari SINDO. Hal tersebut terbaca dari salahsatu situs pribadi awak SINDO Jabar. Berikut kutipannya, "Bos, aku mau ngobrol nih. Ga begitu penting sih...," kata anak ini. “Ehm...mau ngobrol apa? sepertinya, tetep penting nih," jawabku singkat. "Iya bos, aku mau resign. Sebenernya, sudah dipikirkan sejak Desember lalu. Tapi, baru sekarang diomonginnya. Aku juga sudah bawa suratnya," timpal dia. Jatuh lagi satu formasi kekuatan SINDO yang seharusnya bisa bertahan. Tapi, apa boleh buat. Surat pengunduran diri yang ada ditanganku sudahku baca. Tertanggal 19 Januari, anak ini mengajukan permohonan diri untuk "lepas" dari Satuan SINDO Jabar. Tidak tanggung-tanggung, surat super kilat ini, gw terima disaat semuanya memang tidak jelas.
Saya rasa, mungkin ini putusan yang tepat bagi Putu dimana dia harus memilih apakah tetap di Sindo dengan segala ketidakjelasan atau mundur dan mencari kehidupan di daerah asalnya, Bali . Satu sisi, saya marah dengan keputusan tersebut disaat kita butuh kebersamaan untuk membangun media ini. Namun disatu sisi juga saya tidak bisa menahannya karena saya bersama rekan-rekan lainya pun tidak tahu bagaimana penyelesaian dari masalah yang kita hadapi ini.
Namun alhamdulillah saya sempat bertemu dengan Putu sebelum dia naik bis dan pulang ke Bali . Hanya satu pesan saya untuknya, “Tetaplah jadi saudara, walau pun tidak satu media. Mungkin kita akan sama-sama mendoakan agar semuanya sukses dimedia masing-masing”. Selain itu, kita tetap satu saudara walaupun tidak satu media.
Mungkin Putu hanyalah salahsatu teman yang harus mengalah pada sistem yang semakin tidak jelas ini. Semoga dengan adanya rekan kita yang memilih untuk berpisah membuat pihak diatas sana berpikir dan memikirkan langkah ke depan agar kami yang dibawah merasa nyaman dan tenang. Tanpa dibayangi hal-hal yang membuat kita pesimis, takut bahkan hal yang lebih menyeramkan.
Semoga masalah ini cepat berlalu dan kita keluar dari badai yang selama ini membuat hati ini tidak tenang…….. Amien….
Rabu, 21 Januari 2009
Sabtu, 17 Januari 2009
Matinya tukang kritik
Sebagai pemilik sebuah perusahaan, Aku mempunyai dua karyawan yang membuat selalu tersenyum sekaligus cemberut. Mereka biasa dipanggil si Tuno dan si Suto.
Si Tuno yang penurut, bisa membuat hati selalu tenang, tidak was-was. Setiap pekerjaan yang dibebankan padanya selalu dikerjakan. Tidak pernah ditolak, pun tidak membantah.
Selalu diam dan melaksanakan. Tidak peduli seberapa berat tugas yang diberikan, Ia selalu bersikap demikian. Sikap inilah yang selalu membuatku, selaku pemimpin merasa tenang.
Berkebalikan dari Tuno, karyawan perusahan satunya, Suto selalu membuatku cemberut, bahkan membuat tidak tenang. Bagimana tidak, setiap tugas yang ku berikan selalu dikritisi. Kurang ini itu, ada saja penilaian yang kurang dari tugas yang kuberikan.
Bahkan seringkali, kritik itu disampaikan di depan rapat bersama. Selaku pimpinan, keselamatan martabatku seolah tidak dihiraukan. Seenaknya Ia membuka mulut menyampaikan kritik.
Hiburan dan ketegangan yang dihasilkan dua manusia, Tuno dan Suto sudah ku rasakan cukup lama. Kalau tidak salah hitung, lebih dari setahun malah.
Tidak jarang, kesenangan dan ketegangan hasil keduanya ku bagikan pada istriku. Sekedar demi melepaskan ketegangan saraf yang dihasilkan keduanya.
Waktu terus berjalan, sampai akhirnya keteganganku bertambah. Tidak tahu berasal dari mana, kondisi keuangan perusahaan mulai terganggu. Hal ini menambah beban yang sebenarnya sudah cukup berat akibat ulah si Suto saja.
Ketegangan akibat beban akhir-akhir ini, ternyata tidak cukup berkurang meski sudah ku bagi dengan istriku. Sehari, seminggu, sebulan, setengah tahun ku bagi, ketegangan tak kunjung berkurang.
Hingga suatu saat, tepatnya ketika beol, ku mendapat inspirasi. Bagaimana kalau ku hilangkan salah satu beban satu dari dua beban itu. Beban ekonomi atau Suto. Apapun caranya, asalkan salah satu pemberat hilang.
Opsi pertama, mengatasi beban keuangan dengan jalan meminta karyawan bekerja keras. Cara ini dilakukan dengan harapan, kondisi keuangan perusahaan segera membaik.
Strategi ini ku rasa cukup ampuh. Tetapi nyatanya, ketika ku jalankan, sikap kritis si Suto tidak berkurang. Malahan, akibat kebijakan ini, sikap kritis itu berlipat. Dengan lantang ia berujar, karyawan harus dinaikkan haknya bila dituntut bekerja keras.
Bagaimana bisa menaikkan hak bila kondisi keuangan terganggu, jawabku dalam hati saat mendengar kritik dari Suto itu.
Strategi pertama jalan beberapa bulan, tetapi kondisi perusahaan tidak kunjung membaik.
Karena strategi pertama tidak berhasil, aku melakukan strategi kedua. Menghilangkan tukang kritik. Meski ini tidak signifikan membantu beban perusahaan, setidaknya bisa meringankan bebanku.
Aku tidak lagi direcoki dan dibebani kritik dari si Suto. Tekad bulat! Si tukang kritik ditendang dari perusahaan.
Beberapa waktu berlalu, bebanku berkurang. Aku bisa tersenyum, terlebih melihat si Tuno tetap menjadi pekerja penurut seperti sebelum-sebelumnya.
Kondisi kondusif ini sudah berlangsung beberapa bulan sejak si Suto hengkang. Meski kondusif, produk perusahaan tidak mengalami perbaikan. Kualitas sekarang, tidak berbeda dengan ketika Suto masih ada.
Hingga suatu saat, aku merasa, ketaatan karyawan yang masih ada, dilakukan semata untuk membuatku senang. Tidak mengkritik agar aku bisa selalu tersenyum. Tetapi di balik itu semua, mereka melakukan tugas semata untuk memenuhi standar minimal. Asal tugas selesai.
Prinsip asal tugas selesai inilah yang membuat kualitas tidak meningkat alias stagnan. Kalaupun dimintai pendapat, karyawan yang ada lebih memilih diam atau minimal mengeluarkan pendapat pemanis bibir, biar aku tenang.
Kondisi tenang stagnan ini terus berlangsung sampai aku beol pagi ini. Entah rutinitas membuang kotoran ke berapa terhitung sejak inspirasi mengurangi beban yang datang saat beol yang lalu.
Beol kali ini pun mendatangkan inspirasi, tepatnya refleksi. Bahwasannya, sikap diam tanpa semangat kritis para karyawan itu kontra produktif. Sebab rata-rata para taat-ers itu cenderung sebagai pengikut perintah.
Pun, saat di wc kali ini pun membuatku teringat istri. Saat pacaran dulu, mantan pacar ini taat, tidak banyak protes. Mau merokok, minum maupun begadang ia cuek aja, tidak pernah melarang.
Berbeda dengan sekarang, Ibuke calon anak ini mulai cerewet. Melarang merokok, melarang nongkrong begadang, minum, dsb. Ia beralasan semua larangan, kritikan itu disampaikan demi kebaikan. Agar aku memiliki hidup lebih panjang. Dan yang lebih utama karena, menurut pengakuan dia, larangan dan kritikan disampaikan karena rasa sayang.
Penjelasan istri itu, cukup bisa memicu senyum meski di wc yang bau, membuatku ingat ke tukang kritik. Kira-kira, apakah si Suto senang melakukan kritik karena sayang pada perusahaan? Bukan karena Ia memang hobi kritik? Belum sempat jawab ku peroleh, kaki sudah kesemutan.
Aku kesemutan akibat jongkok terlalu lama, meski sebenarnya aku beol di kloset duduk. Jangan ditertawakan, meski kelihatan modern ---selaku pemimpin perusahaan---, untuk urusan ini ---mungkin untuk masalah lain juga----, aku memilih jadi ndeso.
Tetap jongkok meski beol menggunakan wc duduk.
Jogja-17/1/08
Si Tuno yang penurut, bisa membuat hati selalu tenang, tidak was-was. Setiap pekerjaan yang dibebankan padanya selalu dikerjakan. Tidak pernah ditolak, pun tidak membantah.
Selalu diam dan melaksanakan. Tidak peduli seberapa berat tugas yang diberikan, Ia selalu bersikap demikian. Sikap inilah yang selalu membuatku, selaku pemimpin merasa tenang.
Berkebalikan dari Tuno, karyawan perusahan satunya, Suto selalu membuatku cemberut, bahkan membuat tidak tenang. Bagimana tidak, setiap tugas yang ku berikan selalu dikritisi. Kurang ini itu, ada saja penilaian yang kurang dari tugas yang kuberikan.
Bahkan seringkali, kritik itu disampaikan di depan rapat bersama. Selaku pimpinan, keselamatan martabatku seolah tidak dihiraukan. Seenaknya Ia membuka mulut menyampaikan kritik.
Hiburan dan ketegangan yang dihasilkan dua manusia, Tuno dan Suto sudah ku rasakan cukup lama. Kalau tidak salah hitung, lebih dari setahun malah.
Tidak jarang, kesenangan dan ketegangan hasil keduanya ku bagikan pada istriku. Sekedar demi melepaskan ketegangan saraf yang dihasilkan keduanya.
Waktu terus berjalan, sampai akhirnya keteganganku bertambah. Tidak tahu berasal dari mana, kondisi keuangan perusahaan mulai terganggu. Hal ini menambah beban yang sebenarnya sudah cukup berat akibat ulah si Suto saja.
Ketegangan akibat beban akhir-akhir ini, ternyata tidak cukup berkurang meski sudah ku bagi dengan istriku. Sehari, seminggu, sebulan, setengah tahun ku bagi, ketegangan tak kunjung berkurang.
Hingga suatu saat, tepatnya ketika beol, ku mendapat inspirasi. Bagaimana kalau ku hilangkan salah satu beban satu dari dua beban itu. Beban ekonomi atau Suto. Apapun caranya, asalkan salah satu pemberat hilang.
Opsi pertama, mengatasi beban keuangan dengan jalan meminta karyawan bekerja keras. Cara ini dilakukan dengan harapan, kondisi keuangan perusahaan segera membaik.
Strategi ini ku rasa cukup ampuh. Tetapi nyatanya, ketika ku jalankan, sikap kritis si Suto tidak berkurang. Malahan, akibat kebijakan ini, sikap kritis itu berlipat. Dengan lantang ia berujar, karyawan harus dinaikkan haknya bila dituntut bekerja keras.
Bagaimana bisa menaikkan hak bila kondisi keuangan terganggu, jawabku dalam hati saat mendengar kritik dari Suto itu.
Strategi pertama jalan beberapa bulan, tetapi kondisi perusahaan tidak kunjung membaik.
Karena strategi pertama tidak berhasil, aku melakukan strategi kedua. Menghilangkan tukang kritik. Meski ini tidak signifikan membantu beban perusahaan, setidaknya bisa meringankan bebanku.
Aku tidak lagi direcoki dan dibebani kritik dari si Suto. Tekad bulat! Si tukang kritik ditendang dari perusahaan.
Beberapa waktu berlalu, bebanku berkurang. Aku bisa tersenyum, terlebih melihat si Tuno tetap menjadi pekerja penurut seperti sebelum-sebelumnya.
Kondisi kondusif ini sudah berlangsung beberapa bulan sejak si Suto hengkang. Meski kondusif, produk perusahaan tidak mengalami perbaikan. Kualitas sekarang, tidak berbeda dengan ketika Suto masih ada.
Hingga suatu saat, aku merasa, ketaatan karyawan yang masih ada, dilakukan semata untuk membuatku senang. Tidak mengkritik agar aku bisa selalu tersenyum. Tetapi di balik itu semua, mereka melakukan tugas semata untuk memenuhi standar minimal. Asal tugas selesai.
Prinsip asal tugas selesai inilah yang membuat kualitas tidak meningkat alias stagnan. Kalaupun dimintai pendapat, karyawan yang ada lebih memilih diam atau minimal mengeluarkan pendapat pemanis bibir, biar aku tenang.
Kondisi tenang stagnan ini terus berlangsung sampai aku beol pagi ini. Entah rutinitas membuang kotoran ke berapa terhitung sejak inspirasi mengurangi beban yang datang saat beol yang lalu.
Beol kali ini pun mendatangkan inspirasi, tepatnya refleksi. Bahwasannya, sikap diam tanpa semangat kritis para karyawan itu kontra produktif. Sebab rata-rata para taat-ers itu cenderung sebagai pengikut perintah.
Pun, saat di wc kali ini pun membuatku teringat istri. Saat pacaran dulu, mantan pacar ini taat, tidak banyak protes. Mau merokok, minum maupun begadang ia cuek aja, tidak pernah melarang.
Berbeda dengan sekarang, Ibuke calon anak ini mulai cerewet. Melarang merokok, melarang nongkrong begadang, minum, dsb. Ia beralasan semua larangan, kritikan itu disampaikan demi kebaikan. Agar aku memiliki hidup lebih panjang. Dan yang lebih utama karena, menurut pengakuan dia, larangan dan kritikan disampaikan karena rasa sayang.
Penjelasan istri itu, cukup bisa memicu senyum meski di wc yang bau, membuatku ingat ke tukang kritik. Kira-kira, apakah si Suto senang melakukan kritik karena sayang pada perusahaan? Bukan karena Ia memang hobi kritik? Belum sempat jawab ku peroleh, kaki sudah kesemutan.
Aku kesemutan akibat jongkok terlalu lama, meski sebenarnya aku beol di kloset duduk. Jangan ditertawakan, meski kelihatan modern ---selaku pemimpin perusahaan---, untuk urusan ini ---mungkin untuk masalah lain juga----, aku memilih jadi ndeso.
Tetap jongkok meski beol menggunakan wc duduk.
Jogja-17/1/08
Sabtu, 22 November 2008
(tak) adil sejak dalam pikiran
Rabu (19/11/08) sekitar pukul 20.00 wib, redaktur Sindo Jabar Army, telfon. Dia bercerita dan tanya seputar tidak diperpanjang kontrak. Menurut penelurusan dia, setelah tanya Nevy dan Jaka, aku tidak diperpanjang akibat attitude.
Attutude yang dimaksud, saat muncul kasus Bali, aku termasuk salah satu yang vocal mengadvokasi keenam wartawan bali yang kontrak kerja tidak diperpanjang. Adapun standar semisal, penilaian berita, kemampuan dsb tidak menjadi pertimbangan tidak diperpanjangnya kontrak kerjaku.
Saat di Bali, aku memang pernah bertemu dengan Nevy membahas perihal nasib wartawan Sindo Bali setelah gagal terbitnya edisi di sana. Dalam pertemuan itu, Nevy datang dengan Dovy. Dalam pertemuan, sempat terjadi ketegangan kecil, pasalnya Nevy dan Dovy membawa keputusan final pemberhentian keenam wartawan Sindo Bali. Adapun wartawan Sindo Bali meminta keenam wartawan tidak diberhentikan.
Ketegangan ini mencair dengan dihasilkan win-win solution: sebagian besar wartawan Sindo Bali bersedia dipindah ke kantor Sindo lain se Indonesia. Adapun sebagian kecil tetap di bali sebagai kontributor. Tetapi solusi ini urung dilaksanakan, lalu muncullah kronologis kasus Sindo Bali di beberapa milis. Hasilnya sebagian wartawan Sindo Bali yang tidak diperpanjang kala itu 'diselamatkan' dan diberi kompensasi.
Ketegangan inilah – berdasar obrolanku dengan Army – dijadikan dasar pemutusan hubungan kerjaku.
Seusai ngobrol dengan Army, Aku mencoba mengubungi pimred, Sururi. Meski sempat mengangkat telepon, aku tidak bisa ngobrol. Sebab Sururi ketika itu sedang rapat.**** "Seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran", pram, bumi manusia.
Attutude yang dimaksud, saat muncul kasus Bali, aku termasuk salah satu yang vocal mengadvokasi keenam wartawan bali yang kontrak kerja tidak diperpanjang. Adapun standar semisal, penilaian berita, kemampuan dsb tidak menjadi pertimbangan tidak diperpanjangnya kontrak kerjaku.
Saat di Bali, aku memang pernah bertemu dengan Nevy membahas perihal nasib wartawan Sindo Bali setelah gagal terbitnya edisi di sana. Dalam pertemuan itu, Nevy datang dengan Dovy. Dalam pertemuan, sempat terjadi ketegangan kecil, pasalnya Nevy dan Dovy membawa keputusan final pemberhentian keenam wartawan Sindo Bali. Adapun wartawan Sindo Bali meminta keenam wartawan tidak diberhentikan.
Ketegangan ini mencair dengan dihasilkan win-win solution: sebagian besar wartawan Sindo Bali bersedia dipindah ke kantor Sindo lain se Indonesia. Adapun sebagian kecil tetap di bali sebagai kontributor. Tetapi solusi ini urung dilaksanakan, lalu muncullah kronologis kasus Sindo Bali di beberapa milis. Hasilnya sebagian wartawan Sindo Bali yang tidak diperpanjang kala itu 'diselamatkan' dan diberi kompensasi.
Ketegangan inilah – berdasar obrolanku dengan Army – dijadikan dasar pemutusan hubungan kerjaku.
Seusai ngobrol dengan Army, Aku mencoba mengubungi pimred, Sururi. Meski sempat mengangkat telepon, aku tidak bisa ngobrol. Sebab Sururi ketika itu sedang rapat.**** "Seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran", pram, bumi manusia.
surat(an) tak berjawab
Tulisan ini saya kirim ke salah satu redaktur di Jakarta (18/11)dan tak berjawab
******
Sugeng dalu. Mas aku Miftahul Ulum, wartawan Sindo Bali sekarang diperbantukan di Biro Jabar. Aku ate curhat ki. Critane, Senin (17/11/08) ada surat yang diberikan ke aku melalui kepala biro jabar, Denis. Isi surat lumayan mengagetkan, aku ndak diperpanjang kontrak.
Trus spontan ku tanya ma Denis dan kepala redaksi Yogi, yang saat itu ngobrol di ruangan kabiro bertiga. Apa dari Jakarta minta penilaian tentang masalah tidak diperpanjangnya kontrakku. Mereka jawab, tidak. Bahkan, mereka merekomendasikan dua wartawan Jabar lain untuk tidak diperpanjang.
Mendengar itu, aku langsung berfikir, trus apa dasar penilaian tidak diperpanjang kontrakku? Padahal sejak Juli aku sudah dipindah dari Bali ke Bandung.
Sehari sebelumnya, kita redaksi Sindo Jabar rapat dengan redaktur, Army. Saat rapat, Dia juga mengatakan tidak tahu menahu penilaian wartawan yang diperbantukan ke Jabar dari Bali. Menurut sampeyan piye lek koyo ngono?
Sekedar latar belakang, saat gabung di Sindo Bali, statusku masih kerja di harian Nusa Bali. Aku ditawari Warno dan Sunu, jarane sih enak, akhirnya aku mau. Meski sudah pasti gabung, aku tidak langsung mengundurkan diri, sampai suatu saat didesak dari Jakarta untuk segera mengundurkan. Hidup pilihan, akhirnya aku resend trus gabung.
Eh tujuh bulan lebih di Bali, Sindo Bali tidak juga terbit. Sampai akhirnya dikirimlah aku ke Bandung. Hampir empat bulan di Bandung, taunya tidak diperpanjang. Menurut petaku, rekomendasi tidak diperpanjang pasti terbit dari redaksi, hrd tinggal acc.
Sejauh ini info ini memang belum menyebar ke pihak luar. Tetapi tidak menutup kemungkinan, sebab aku harus cari perahu –maklum ngopeni bojo. Pointnya, semoga sampean bisa kasi sedikit gambaran bahkan kalo bisa solusi atas kasus iki. Segitu dulu, suwun.****
******
Sugeng dalu. Mas aku Miftahul Ulum, wartawan Sindo Bali sekarang diperbantukan di Biro Jabar. Aku ate curhat ki. Critane, Senin (17/11/08) ada surat yang diberikan ke aku melalui kepala biro jabar, Denis. Isi surat lumayan mengagetkan, aku ndak diperpanjang kontrak.
Trus spontan ku tanya ma Denis dan kepala redaksi Yogi, yang saat itu ngobrol di ruangan kabiro bertiga. Apa dari Jakarta minta penilaian tentang masalah tidak diperpanjangnya kontrakku. Mereka jawab, tidak. Bahkan, mereka merekomendasikan dua wartawan Jabar lain untuk tidak diperpanjang.
Mendengar itu, aku langsung berfikir, trus apa dasar penilaian tidak diperpanjang kontrakku? Padahal sejak Juli aku sudah dipindah dari Bali ke Bandung.
Sehari sebelumnya, kita redaksi Sindo Jabar rapat dengan redaktur, Army. Saat rapat, Dia juga mengatakan tidak tahu menahu penilaian wartawan yang diperbantukan ke Jabar dari Bali. Menurut sampeyan piye lek koyo ngono?
Sekedar latar belakang, saat gabung di Sindo Bali, statusku masih kerja di harian Nusa Bali. Aku ditawari Warno dan Sunu, jarane sih enak, akhirnya aku mau. Meski sudah pasti gabung, aku tidak langsung mengundurkan diri, sampai suatu saat didesak dari Jakarta untuk segera mengundurkan. Hidup pilihan, akhirnya aku resend trus gabung.
Eh tujuh bulan lebih di Bali, Sindo Bali tidak juga terbit. Sampai akhirnya dikirimlah aku ke Bandung. Hampir empat bulan di Bandung, taunya tidak diperpanjang. Menurut petaku, rekomendasi tidak diperpanjang pasti terbit dari redaksi, hrd tinggal acc.
Sejauh ini info ini memang belum menyebar ke pihak luar. Tetapi tidak menutup kemungkinan, sebab aku harus cari perahu –maklum ngopeni bojo. Pointnya, semoga sampean bisa kasi sedikit gambaran bahkan kalo bisa solusi atas kasus iki. Segitu dulu, suwun.****
Selasa, 11 November 2008
job desk dan penilaian
Empat jam lalu, selasa (11/11) sekitar pukul 22.00 Wib, redaksi jabar melakukan rapat redaksi plus. Terdiri dari, aku, yugi p, wisnoe m, mudasir, krisnadi, putu n, opik, iwa s, rahmat, radi, arip, eko, yogi, raka plus redaktur jabar army.
Materi rapat tersusun dari, budgeting berita dan pemaparan penilaian redaksi. Hasil budgeting: menugaskan follow up hl halaman 1 tentang persib dan pembangunan GOR gedebage (radi, kris, opik), demo buruh (ugi, radi), film iran paris van java (wisnoe), FFI (kris, ulum).
Dibanding anggota redaksi lain, aku dan wisnoe adalah reporter yang tidak mempunyai pos jelas. Tugas kami mengerjakan halaman metropolitan bandung atau dikenal halaman 13. Entah bagaimana ceritanya, akhirnya kami berdua seolah bertanggungjawab ada tidaknya HL halaman itu.
Selain 13, halaman metropolitan bandung terdiri dari halaman 14, 15. Ketiga halaman ini melibatkan 7 wartawan, kris (pemkot bandung), yugi (kriminal), iwa (kab bandung dan cimahi), dede (mall), adi (KBB), wisnoe dan ulum (ndak jelas asal dapat HL saja).
Meski bertugas membuat HL, tidak jarang beberapa kejadian menggeser HL by design kita berdua. Ini tidak masalah tetapi bikin kesel, kita susah2 nyari isu (tanpa bimbingan asred) eh tau2 digeser......
Kondisi tanpa pos lambat laun berimbas pada penilaian. Pada rapat redaksi plus kali ini, pertama kali aku mengetahui kriteria penilaian SINDO. Meski, aku bergabung lebih dari 11 bulan.
Penilaian setiap reporter dilakukan oleh asred n redaktur. Ada empat faktor penilaian: penulisan, produktifitas, kerjasama dan kualitas. Keempat faktor itu masing2 digolongkan dengan penilaian A (baik), B (sedang) dan C (cukup).
Berdasar pengakuan redaktur, Army, faktor penulisan dinilai dari tulisan reporter sudahkah enak dibaca, urut, logika tidak membingungkan. Produktifitas ditandai tidak bobol, tidak mangkir. Kerjasama ditandai enak dihubungi, ditelp slalu ngangkat, dsb. Kualitas akumulasi tiga faktor sebelumnya.
Dia memaparkan, penilaian kinerja yang berpengaruh pada tunjangan prestasi (maks Rp 500 ribu) ini banyak dipengaruhi subyektifitas si pemberi nilai.
Terlepas dari kelemahan itu, hasil penilaian redaksi, terutama soal kinerjaku, aku anggap kurang memuaskan. Bulan Agustus 2008, keempat nilai bertengger di level B. Penurunan terjadi pada bulan September, faktor produktifitas dinilai C, sedangkan faktor lain dinilai B.
Bisa jadi penurunan penilaian ini akibat perpindahan pos. Bulan Agustus aku ditugaskan pada pos pilkada, mengawal Hudaya. September ditugaskan di halaman metropolitan yang nota bene tidak jelas tugas dan tanggungjawabnya.
Aku berpendapat ketiadaan job desk yang jelas ini menyebabkan kebutuhan untuk aktualisasi diri tidak terpenuhi. Kondisi ini berimbas ke kinerja yang terus menurun.***
Materi rapat tersusun dari, budgeting berita dan pemaparan penilaian redaksi. Hasil budgeting: menugaskan follow up hl halaman 1 tentang persib dan pembangunan GOR gedebage (radi, kris, opik), demo buruh (ugi, radi), film iran paris van java (wisnoe), FFI (kris, ulum).
Dibanding anggota redaksi lain, aku dan wisnoe adalah reporter yang tidak mempunyai pos jelas. Tugas kami mengerjakan halaman metropolitan bandung atau dikenal halaman 13. Entah bagaimana ceritanya, akhirnya kami berdua seolah bertanggungjawab ada tidaknya HL halaman itu.
Selain 13, halaman metropolitan bandung terdiri dari halaman 14, 15. Ketiga halaman ini melibatkan 7 wartawan, kris (pemkot bandung), yugi (kriminal), iwa (kab bandung dan cimahi), dede (mall), adi (KBB), wisnoe dan ulum (ndak jelas asal dapat HL saja).
Meski bertugas membuat HL, tidak jarang beberapa kejadian menggeser HL by design kita berdua. Ini tidak masalah tetapi bikin kesel, kita susah2 nyari isu (tanpa bimbingan asred) eh tau2 digeser......
Kondisi tanpa pos lambat laun berimbas pada penilaian. Pada rapat redaksi plus kali ini, pertama kali aku mengetahui kriteria penilaian SINDO. Meski, aku bergabung lebih dari 11 bulan.
Penilaian setiap reporter dilakukan oleh asred n redaktur. Ada empat faktor penilaian: penulisan, produktifitas, kerjasama dan kualitas. Keempat faktor itu masing2 digolongkan dengan penilaian A (baik), B (sedang) dan C (cukup).
Berdasar pengakuan redaktur, Army, faktor penulisan dinilai dari tulisan reporter sudahkah enak dibaca, urut, logika tidak membingungkan. Produktifitas ditandai tidak bobol, tidak mangkir. Kerjasama ditandai enak dihubungi, ditelp slalu ngangkat, dsb. Kualitas akumulasi tiga faktor sebelumnya.
Dia memaparkan, penilaian kinerja yang berpengaruh pada tunjangan prestasi (maks Rp 500 ribu) ini banyak dipengaruhi subyektifitas si pemberi nilai.
Terlepas dari kelemahan itu, hasil penilaian redaksi, terutama soal kinerjaku, aku anggap kurang memuaskan. Bulan Agustus 2008, keempat nilai bertengger di level B. Penurunan terjadi pada bulan September, faktor produktifitas dinilai C, sedangkan faktor lain dinilai B.
Bisa jadi penurunan penilaian ini akibat perpindahan pos. Bulan Agustus aku ditugaskan pada pos pilkada, mengawal Hudaya. September ditugaskan di halaman metropolitan yang nota bene tidak jelas tugas dan tanggungjawabnya.
Aku berpendapat ketiadaan job desk yang jelas ini menyebabkan kebutuhan untuk aktualisasi diri tidak terpenuhi. Kondisi ini berimbas ke kinerja yang terus menurun.***
Rabu, 05 November 2008
membaca si jabar
Berbekal 'pengalaman' gabung di Radar Jember dan Nusa Bali, aku mencoba sedikit menilai Si Jabar. Kalaupun menilai dirasa terlalu berat, boleh kiranya digunakan istilah membandingkan dengan kedua media tempat aku bergabung lebih dulu itu.
Redaksi
Awak redaksi si jabar ini mencapai 15 orang di kantor biro. Mereka bertugas di pemprov 1 orang, pemkot 1, kab bandung 1, ekonomi 2, pendidikan 2, polisi kejaksaan 2, hal budaya 1, halalaman metro 3, fotografer 2. Kesemua awak redaksi ini memperoleh kesempatan libur sehari dalam seminggu.
Aku sendiri gabung dengan si jabar Juli 2008, pertama bertugas mengawal pos pilwalkot kemudian dipindah ke halaman metropolitan. Supaya lebih terang, aku akan mengulas pengalaman tergabung dalam tim pilwalkot ini.
Ada tiga kandidat dalam perebutan kursi walikota bandung, dada-ayi, taufik-abu, hudaya-nahadi. Aku kebetulan disuruh ngawal si calon nomor tiga (hudaya-nahadi). Perintah yang diberikan padaku, setiap kegiatan calon ini harus dikawal. Setiap hari pun setidaknya harus ada berita mengenai mereka.
Sehari, dua hari pertama, mengawal cawalkot enjoy saja. Berita pun lumayan bagus, terutama karena masih ada konflik yang bisa dimainkan. Mulai dari strategi menarik simpati massa sampai cara kampanye. Tapi seiring berjalan waktu, konflik yang menjadi pola semua pilkadal itu mulai membosankan.
Konflik tidak begitu kuat lagi. Akhirnya seringkali berita jatuh menjadi berita service. Parahnya, si redaktur tidak mengolah supaya berita servis ini memiliki nilai konflik. Sebab menurutku, konflik atau power of game inilah kekuatan berita politik.
Kerena redaktur tidak mengolah berita ketiga wartawan pilwalkot menjadi berita konflik, hampir satu bulan halaman khusus pilwakot tidak ubahnya halaman advetorial. Tiap berita ketiga calon menunjukkan kelebihan masing-masing melalui berita narsis itu. Singkat cerita, moment pilwakot usai dengan kesimpulan berita selama momen itu lebih tepat disebut advetorial, berita servis yang minim memiliki nilai berita.
Sekitar bulan September, aku dipindah ke halaman metropolitan, dengan tugas membuat hl halaman itu. Tidak ada pos khusus, hanya bertugas membuat berita HL setiap hari. Tugas ini dikerjakan berdua dengan temanku.
Perlu juga diinformasikan, bahwa hl disusun berdasarkan isu, meski kadang-kadang kejadian bisa disusun menjadi hl pula. Kondisi ini memaksa kita berdua - aku dengan wisnoe - memikirkan isu perkotaan yang layak dijadikan hl. Lambat laun kita pusing juga, karena kehabisan isu karena kurangnya kreatifitas.
Kondisi ini membuat aku mengusulkan proyeksi berita setiap pagi hari. Proyeksi ini sendiri bertujuan, supaya wartawan ke lapangan tidak dengan ide kosong. Melainkan ada isu yang dikejar. Selain itu, proyeksi memudahkan pemetaan berita, ide bagus, ide lemah yang bisa diperkuat, dsb. Pemetaan pada akhirnya memudahkan perkiraan kebutuhan berita di halaman.
Keuntungan lain, dengan proyeksi, kawan redaksi lain bisa membantu ide untuk HL. Banyak memang keuntungan proyeksi, namun sayangnya hanya tiga orang yang datang pada tiga hari pertama proyeksi. Padahal proyeksi ini sendiri dimulai jam 9. Akhirnya proyeksi pagi hari gagal.
Waktu pun berlalu lagi tanpa proyeksi. Sampai seusai lebaran 1419 h, sekitar bulan oktober proyeksi digalakkan kembali. Perbedaan dengan sebelumnya, proyeksi dilakukan malam hari. Seusai ngetik, awak redaksi rapat, membuat daftar agenda besok dan melisting isu hl metro esok hari.
Rapat tiap hari berjalan lancar. Hanya saja kelemahannya, rapat seolah hanya menjadi ajang wartawan menyetor agenda. Tidak ada eksplorasi rencana setiap awak redaksi keesokan hari kemana. Tidak ada tukar pendapat mengenai pembuatan isu yang cocok diangkat masing-masing desk esok hari. Praktis proyeksi malam hari ini tidak berbeda dengan setor agenda saja.
Oh ya....akibat proyeksi malam hari pula, wartawan bisa seenaknya ke lapangan esok harinya. Berangkat jam 11 atau 12 siang pun tidak ada yang mengetahui.
Para redaktur dan Asisten Redaktur si Jabar bertugas di Jakarta. Mereka menerima berita mentah dari wartawan, mengolah, melay out di sana pula. Setiap harinya mereka melisting berita setiap pukul 17.00 Wib, hanya saja sering kali mereka hanya melisting, tidak mengarahkan. Maklum saja, jam segitu wartawan sudah dikantor, tidak mungkin menambah data di lapangan.
Sekedar membandingkan dengan nusa bali, proyeksi di media yang mementingkan berita - dengan slogan : yang penting beritanya bli dilakukan pagi hari, pukul 08.00 Wita. Kegiatan ini biasanya berakhir pukul 09.00 Wita. Saat wartawan memasuki ruang rapat, mereka dihadapkan pada empat koran, nusa bali, bali post, jawa pos dan denpost. Berebutan para wartawan ini membaca berita di koran tersebut.
Tujuannya mencari isu atau ide yang bisa dilistingkan saat proyeksi. Selain mencari ide, membaca koran sekaligus membandingkan berita yang ditulis dengan koran lain. Juga membandingkan apakah wartawan bersangkutan kebobolan berita. Tentu tidak ketinggalan kegiatan narsis, membaca tulisan sendiri.
Kegiatan proyeksi ini dilakukan enam hari dalam seminggu kecuali hari minggu pagi. Tanpa proyeksi, kawan redaksi serasa merdeka, minimal bisa mencuci baju. Perlu diketahui pula, di nusa bali tidak mengenal libur mingguan, kecuali hari libur nasional.
Sekitar jam 09.00 Wita, kawan wartawan meninggalkan kantor. Selepas dari gerbang kantor, kegiatan yang hampir selalu dilakukan makan pagi sekaligus proyeksi kedua. Makan, ngopi, rokokan plus ngrumpi. Baru sekitar pukul 09.30 atau 10.00 Wita para wartawan pergi ke target masing-masing.
Setelah bergelut dengan sinar matahari, debu dan cipratan ludah narasumber, sekitar pukul 13.00 - 14.00 wita telepon genggam setiap reporter berbunyi. Redaktur yang memimpin proyeksi pagi menelfon, meminta daftar belanja, daftar berita yang sudah diperoleh wartawan di lapangan.
Ada kalanya, kawan wartawan sudah mempunyai berita, tetapi tidak jarang pula belum memiliki sama sekali. Atau berita yang di dapat kurang lengkap. Meskidemikian mereka terpaksa menyebutkan daftar itu. Sebab daftar ini akan dibawa rapat redaktur sekitar pukul 15.00 wita.
Rapat redaktur ini tidak kalah serem. Meski belum pernah ikut langsung, informasi dari berbagai sumber setidaknya masuk akal. Serem karena rapat ini melakukan evalusi terbitan pada hari itu. Kekurangan berita, kebobolan sampai kelemahan redaktur. Semacam pengadilan bagi para peserta rapat dan wartawan secara tidak langsung.
Pun, dalam rapat ini diendus berita yang beraroma titipan, ada uangnya dsb...dsb. Bisanya rapat selesai jam 16.00 - 17.00 wita.
Bisanya kawan wartawan datang pukul 17 wita, kemudian mengetik. Sekitar pukul 18.00 Wita, bersamaan dengan derap tuts komputer wartawan, telefon kantor berdering. Penelponnya agen yang memesan koran. Berapa banyak mereka memesan koran esok harinya. Jumlah pemesan penting karena, koran ini paling mahal di bali Rp 3000 dan dipesan sesuai jumlah order.
Berita yang diketik wartawan bisanya masuk pukul 20.00 wita. Di edit, dilay out dan diprint sekitar pukul 23.00 Wita. Hasil print sementara itu diperiksa baru kemudian pukul 01.00 wita berangkat cetak. Saat hasil print keluar, para wartawan baru bisa bernafas lega, pulang atau nongkrong untuk melepas penat.
Berdasar perbandingan di atas, terlihat bahwa sistem si jabar sangat longgar, dan sebaliknya dengan si nusa bali. Layaknya spion, perbandingan ini hanya untuk menunjukkan apa yang pernah ada, dan apakah bisa untuk bekal menghadapi perjalanan ke depan. ***
Redaksi
Awak redaksi si jabar ini mencapai 15 orang di kantor biro. Mereka bertugas di pemprov 1 orang, pemkot 1, kab bandung 1, ekonomi 2, pendidikan 2, polisi kejaksaan 2, hal budaya 1, halalaman metro 3, fotografer 2. Kesemua awak redaksi ini memperoleh kesempatan libur sehari dalam seminggu.
Aku sendiri gabung dengan si jabar Juli 2008, pertama bertugas mengawal pos pilwalkot kemudian dipindah ke halaman metropolitan. Supaya lebih terang, aku akan mengulas pengalaman tergabung dalam tim pilwalkot ini.
Ada tiga kandidat dalam perebutan kursi walikota bandung, dada-ayi, taufik-abu, hudaya-nahadi. Aku kebetulan disuruh ngawal si calon nomor tiga (hudaya-nahadi). Perintah yang diberikan padaku, setiap kegiatan calon ini harus dikawal. Setiap hari pun setidaknya harus ada berita mengenai mereka.
Sehari, dua hari pertama, mengawal cawalkot enjoy saja. Berita pun lumayan bagus, terutama karena masih ada konflik yang bisa dimainkan. Mulai dari strategi menarik simpati massa sampai cara kampanye. Tapi seiring berjalan waktu, konflik yang menjadi pola semua pilkadal itu mulai membosankan.
Konflik tidak begitu kuat lagi. Akhirnya seringkali berita jatuh menjadi berita service. Parahnya, si redaktur tidak mengolah supaya berita servis ini memiliki nilai konflik. Sebab menurutku, konflik atau power of game inilah kekuatan berita politik.
Kerena redaktur tidak mengolah berita ketiga wartawan pilwalkot menjadi berita konflik, hampir satu bulan halaman khusus pilwakot tidak ubahnya halaman advetorial. Tiap berita ketiga calon menunjukkan kelebihan masing-masing melalui berita narsis itu. Singkat cerita, moment pilwakot usai dengan kesimpulan berita selama momen itu lebih tepat disebut advetorial, berita servis yang minim memiliki nilai berita.
Sekitar bulan September, aku dipindah ke halaman metropolitan, dengan tugas membuat hl halaman itu. Tidak ada pos khusus, hanya bertugas membuat berita HL setiap hari. Tugas ini dikerjakan berdua dengan temanku.
Perlu juga diinformasikan, bahwa hl disusun berdasarkan isu, meski kadang-kadang kejadian bisa disusun menjadi hl pula. Kondisi ini memaksa kita berdua - aku dengan wisnoe - memikirkan isu perkotaan yang layak dijadikan hl. Lambat laun kita pusing juga, karena kehabisan isu karena kurangnya kreatifitas.
Kondisi ini membuat aku mengusulkan proyeksi berita setiap pagi hari. Proyeksi ini sendiri bertujuan, supaya wartawan ke lapangan tidak dengan ide kosong. Melainkan ada isu yang dikejar. Selain itu, proyeksi memudahkan pemetaan berita, ide bagus, ide lemah yang bisa diperkuat, dsb. Pemetaan pada akhirnya memudahkan perkiraan kebutuhan berita di halaman.
Keuntungan lain, dengan proyeksi, kawan redaksi lain bisa membantu ide untuk HL. Banyak memang keuntungan proyeksi, namun sayangnya hanya tiga orang yang datang pada tiga hari pertama proyeksi. Padahal proyeksi ini sendiri dimulai jam 9. Akhirnya proyeksi pagi hari gagal.
Waktu pun berlalu lagi tanpa proyeksi. Sampai seusai lebaran 1419 h, sekitar bulan oktober proyeksi digalakkan kembali. Perbedaan dengan sebelumnya, proyeksi dilakukan malam hari. Seusai ngetik, awak redaksi rapat, membuat daftar agenda besok dan melisting isu hl metro esok hari.
Rapat tiap hari berjalan lancar. Hanya saja kelemahannya, rapat seolah hanya menjadi ajang wartawan menyetor agenda. Tidak ada eksplorasi rencana setiap awak redaksi keesokan hari kemana. Tidak ada tukar pendapat mengenai pembuatan isu yang cocok diangkat masing-masing desk esok hari. Praktis proyeksi malam hari ini tidak berbeda dengan setor agenda saja.
Oh ya....akibat proyeksi malam hari pula, wartawan bisa seenaknya ke lapangan esok harinya. Berangkat jam 11 atau 12 siang pun tidak ada yang mengetahui.
Para redaktur dan Asisten Redaktur si Jabar bertugas di Jakarta. Mereka menerima berita mentah dari wartawan, mengolah, melay out di sana pula. Setiap harinya mereka melisting berita setiap pukul 17.00 Wib, hanya saja sering kali mereka hanya melisting, tidak mengarahkan. Maklum saja, jam segitu wartawan sudah dikantor, tidak mungkin menambah data di lapangan.
Sekedar membandingkan dengan nusa bali, proyeksi di media yang mementingkan berita - dengan slogan : yang penting beritanya bli dilakukan pagi hari, pukul 08.00 Wita. Kegiatan ini biasanya berakhir pukul 09.00 Wita. Saat wartawan memasuki ruang rapat, mereka dihadapkan pada empat koran, nusa bali, bali post, jawa pos dan denpost. Berebutan para wartawan ini membaca berita di koran tersebut.
Tujuannya mencari isu atau ide yang bisa dilistingkan saat proyeksi. Selain mencari ide, membaca koran sekaligus membandingkan berita yang ditulis dengan koran lain. Juga membandingkan apakah wartawan bersangkutan kebobolan berita. Tentu tidak ketinggalan kegiatan narsis, membaca tulisan sendiri.
Kegiatan proyeksi ini dilakukan enam hari dalam seminggu kecuali hari minggu pagi. Tanpa proyeksi, kawan redaksi serasa merdeka, minimal bisa mencuci baju. Perlu diketahui pula, di nusa bali tidak mengenal libur mingguan, kecuali hari libur nasional.
Sekitar jam 09.00 Wita, kawan wartawan meninggalkan kantor. Selepas dari gerbang kantor, kegiatan yang hampir selalu dilakukan makan pagi sekaligus proyeksi kedua. Makan, ngopi, rokokan plus ngrumpi. Baru sekitar pukul 09.30 atau 10.00 Wita para wartawan pergi ke target masing-masing.
Setelah bergelut dengan sinar matahari, debu dan cipratan ludah narasumber, sekitar pukul 13.00 - 14.00 wita telepon genggam setiap reporter berbunyi. Redaktur yang memimpin proyeksi pagi menelfon, meminta daftar belanja, daftar berita yang sudah diperoleh wartawan di lapangan.
Ada kalanya, kawan wartawan sudah mempunyai berita, tetapi tidak jarang pula belum memiliki sama sekali. Atau berita yang di dapat kurang lengkap. Meskidemikian mereka terpaksa menyebutkan daftar itu. Sebab daftar ini akan dibawa rapat redaktur sekitar pukul 15.00 wita.
Rapat redaktur ini tidak kalah serem. Meski belum pernah ikut langsung, informasi dari berbagai sumber setidaknya masuk akal. Serem karena rapat ini melakukan evalusi terbitan pada hari itu. Kekurangan berita, kebobolan sampai kelemahan redaktur. Semacam pengadilan bagi para peserta rapat dan wartawan secara tidak langsung.
Pun, dalam rapat ini diendus berita yang beraroma titipan, ada uangnya dsb...dsb. Bisanya rapat selesai jam 16.00 - 17.00 wita.
Bisanya kawan wartawan datang pukul 17 wita, kemudian mengetik. Sekitar pukul 18.00 Wita, bersamaan dengan derap tuts komputer wartawan, telefon kantor berdering. Penelponnya agen yang memesan koran. Berapa banyak mereka memesan koran esok harinya. Jumlah pemesan penting karena, koran ini paling mahal di bali Rp 3000 dan dipesan sesuai jumlah order.
Berita yang diketik wartawan bisanya masuk pukul 20.00 wita. Di edit, dilay out dan diprint sekitar pukul 23.00 Wita. Hasil print sementara itu diperiksa baru kemudian pukul 01.00 wita berangkat cetak. Saat hasil print keluar, para wartawan baru bisa bernafas lega, pulang atau nongkrong untuk melepas penat.
Berdasar perbandingan di atas, terlihat bahwa sistem si jabar sangat longgar, dan sebaliknya dengan si nusa bali. Layaknya spion, perbandingan ini hanya untuk menunjukkan apa yang pernah ada, dan apakah bisa untuk bekal menghadapi perjalanan ke depan. ***
Sabtu, 01 November 2008
penyelamatan empat orang
Kompromi perusahaan. Bijak kiranya, saya catat pula bagaimana nasib para kawan yang dipecat dari SINDO Bali. Empat orang yang dipecat berhasil diselamatkan perusahaan. Dua orang, dede suryana dan m saifullah ditarik ke okezone sebagai asred, bertugas di jakarta. Dua orang lain, husain dan arid diperbantukan pada sun tv, group MNC pula.
Sementara, dua orang lainnya, Sudhirta dan Sadewa tidak "berhasil" diselamatkan. Sudhirta memilih bergabung dengan harian nusa bali, sedangkan Sadewa memilih bergabung dengan salah satu LSM dan bertugas di kalimantan. Kedua orang ini tidak mau bergabung dengan sun tv, sebab televisi yang sedianya bermuatan lokal ini tidak kunjung jelas kapan beroperasi.
Kelima wartawan itu, selain sadewa menerima kompensasi - uang damai - dari perusahaan sebesar Rp 2 juta. Sadewa tidak menerima uang damai karena, dia diberhentikan sesuai dengan masa habis masa kontrak.
Sepanjang bulan Juni - September, kantor biro yang berada di Bali, Jalan Diponegoro 109 Denpasar ditutup. Ketiga wartawan Sindo yang masih di sana, khusna, ervi dan dewi ngantor di warnet.* Mereka dimatikan.....perlahan.....sampai-sampai seolah tidak bisa melawan.....
Sementara, dua orang lainnya, Sudhirta dan Sadewa tidak "berhasil" diselamatkan. Sudhirta memilih bergabung dengan harian nusa bali, sedangkan Sadewa memilih bergabung dengan salah satu LSM dan bertugas di kalimantan. Kedua orang ini tidak mau bergabung dengan sun tv, sebab televisi yang sedianya bermuatan lokal ini tidak kunjung jelas kapan beroperasi.
Kelima wartawan itu, selain sadewa menerima kompensasi - uang damai - dari perusahaan sebesar Rp 2 juta. Sadewa tidak menerima uang damai karena, dia diberhentikan sesuai dengan masa habis masa kontrak.
Sepanjang bulan Juni - September, kantor biro yang berada di Bali, Jalan Diponegoro 109 Denpasar ditutup. Ketiga wartawan Sindo yang masih di sana, khusna, ervi dan dewi ngantor di warnet.* Mereka dimatikan.....perlahan.....sampai-sampai seolah tidak bisa melawan.....
Langganan:
Postingan (Atom)
